Thursday, November 2, 2017

Kisah Perjalanan Hidup Ahok di Belitung Timur

Nama Ahok mulai dikenal masyarakat di tanah air saat menjabat sebagai Bupati Belitung Timur periode 2005 - 2010 melalui pemilihan kepala daerah secara langsung. Di bawah kepemimpinannya, berbagai gebrakan dan terobosan dilakukan untuk menyentuh masyarakat secara langsung terutama berkaitan dengan kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan. Tidak hanya itu, lingkungan birokrasi pemerintah daerah pun dibenahi guna menciptakan figur aparatur yang profesional dan anti KKN.

Ahok yang bernama lengkap Ir Basuki Tjahaja Purnama, MM, lahir di Manggar, ibukota Kabupaten Belitung Timur, pada tanggal 29 Juni 1966. Ayahnya bernama Indra Tjahaja Purnama (Cung Kim Nam) dan ibunya bernama Buniarti Ningsih (Bun Nen Caw). Ayahnya adalah seorang pengusaha sukses yang cukup terkenal di Pulau Belitung karena kepeduliannya terhadap masalah sosial yang dialami masyarakat kurang mampu.

Ahok kemudian menikah pada tanggal 6 September 1977 dengan Veronica, ST, gadis kelahiran Medan, Sumatera Utara dan dikaruniai 2 (dua) putra, Nicholas (1998) dan Daud (2006), serta seorang putri, Nathania (2001).

Setamat dari sekolah menengah pertama, Ahok melanjutkan sekolahnya di Jakarta, sampai kemudian mengambil kuliah di Universitas Trisakti pada Jurusan Geologi, Fakultas Teknologi Mineral. Setelah menamatkan pendidikannya di sana pada tahun 1989, ia lalu pulang kampung dengan mendirikan CV Panda yang beregrak di bidang kontraktor pertambangan. Keputusannya untuk pulang kampung karena teringat akan pesan almarhum ayahnya, "Jangan pernah lupa pada kampung halaman. Kamu boleh ke mana saja asal jangan lupa pulang untuk membangun kampung halaman." Nasihat ini juga merupakan pesan kepada adik-adik Ahok, dr Basuri T Purnama, Fifi Lety SH, LLM, dan Harry Basuki MBA.

Ahok menggeluti dunia kontraktor tambang timah selama 2 (dua) tahun. Ia menyadari hal ini tidak akan mampu mewujudkan visi untuk membangun daerah yang ada di benaknya, karena untuk menjadi pengelola mineral, selain diperlukan modal besar juga dibutuhkan manajemen yang profesional. Untuk itu ia pun memutuskan untuk mengikuti pendidikan S2 di bidang manajemen keuangan di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya Jakarta dan berhasil mendapat gelar MM yang membawanya diterima bekerja di PT Simaxindo Primadaya di Jakarta, perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor pembangunan pembangkit listrik.

Karena ingin berkonsentrasi untuk membangun daerah, pada tahun 1995 ia memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya lalu mendirikan PT Nurindra Ekapersada sebagai persiapan dalam membangun pabrik Gravel Pack Sand (GPS). Namun lambat laun Ahok menyadari bahwa menjadi pengusaha tidak akan dapat berbuat banyak karena dana yang dimiliki untuk membantu orang lain terbatas. Menurutnya, salah satu caranya adalah dengan menjadi pejabat negara. Tahun 2003 saat gaung reformasi menggelegar hingga penjuru tanah air, Ahok mencoba terjun ke dunia politik dengan bergabung ke PPIB (Partai Perhimpunan Indonesia Baru). Pada Pemilu 2004 ia mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dan tanpa disangka terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur periode 2004 - 2009. Ketika menjadi wakil rakyat, ia dan rekan satu partai pernah mengembalikan sisa uang perjalanan dinas ke Malang, Jawa Timur dimana mengembalikan uang sisa perjalanan dinas itu bukan dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Ia malah dimusuhi dan dikucilkan oleh rekan-rekan anggota DPRD lainnya. Oleh pimpinan melalui rapat internal DPRD, ia tidak diperkenankan menjabat sebagai pimpinan dalam alat kelengkapan DPRD baik di komisi maupun di fraksi. Ia juga dikenal vokal dalam menyuarakan kepentingan rakyat kecil. Suatu hari terjadi demo oleh para pekerja perusahaan perkebunan kepala sawit yang berunjuk rasa di depan gedung DPRD Kabupaten Belitung Timur yang menuntut masalah upah yang dibayar di bawah upah minimum kabupaten. Saat itu tidak ada anggota DPRD yang keluar untuk menghadapi para pengunjuk rasa. Ahok akhirnya memutuskan untuk menemui para buruh. Ia pun akhirnya berhasil memperjuangkan kenaikan upah para buruh perkebunan kepala sawit sesuai UMK.

Ternyata menjadi wakil rakyat di DPRD bagi Ahok tidaklah cukup untuk bisa ikut mensejahterakan rakyat. Belum lagi dengan persoalan tidak sejalannya pemikiran dan ide-idenya dengan anggota DPRD lainnya. Maka pada tahun 2005 ia mencalonkan diri sebagai bupati pada pemilihan kepala daerah langsung Kabupaten Belitung Timur dan berhasil terpilih dengan mengantongi suara 37,13%. Namun jabatan bupati tersebut hanya diemban selama kurang lebih 16 (enam belas) bulan saja karena pada tanggal 22 Desember 2007, ia secara resmi mengundurkan diri untuk mengikuti pemilihan kepala daerah Provinsi Bangka Belitung. Namun kali ini ia tidak berhasil terpilih dan hanya menempati posisi urutan kedua dengan selisih mencapai 14.000 kertas suara dengan pemenang pilkada.

Kisah di atas dapat dibaca pada buku biografi Ahok berjudul "Merubah Indonesia ; The Story of Basuki Tjahaja Purnama."

Ahok

No comments: