Sunday, October 22, 2017

Review Grand Cemara Hotel Jakarta

Kali ini saya akan mencoba men-share pengalaman menginap singkat selama 1 (satu) malam di Grand Cemara Hotel Jakarta. Review ini tidak ada kaitannya antara saya dan pihak hotel dan berharap tulisan ini dapat berguna bagi siapa saja yang membutuhkan.

Dalam sebuah kesempatan untuk berjumpa dengan istri dan anak yang datang dari Batam di tahun 2016, saya memutuskan untuk mem-booking hotel Grand Cemara ini dengan pertimbangan antara lain dapat menerima anak usia 9 (sembilan) tahun dalam 1 (satu) kamar tanpa dikenakan tambahan biaya. Lokasinya pun juga tidak terlalu jauh dari kantor pusat instansi istri di Jl. Merdeka Barat, tempat dimana acara kantor dilangsungkan.

Melalui penelusuran di website meereka, untuk kamar tipe Executive Deluxe waktu itu dihargai sebesar Rp 557.520,00 ditambah tax/pajak Rp 117.079,00 = Rp 674.599,00 per malam. Harga total ini sudah termasuk sarapan (breakfast). Harap diingat bahwa ada juga informasi harga menginap di hotel yang tidak meng-include-kan sarapan pagi ke dalam biaya kamar per malam.

Lokasi hotel berada di Jl. Cemara No. 1 Menteng Jakarta Pusat. Harap diingat agar jangan sampai tertukar dengan Cemara Hotel yang juga berada di dekat Grand Cemara, Jl. Wahid Hasyim No. 69 Jakarta Pusat, yang merupakan 1 (satu) group bisnis. Bangunan Grand Cemara Hotel sendiri berada di titik persimpangan antara Jl. Wahid Hasyim, Jl. Cemara, Jl. Johar, dan Jl. Kebon Sirih Timur Dalam.

Memasuki hotel, penyambutan dilakukan oleh staf penjaga pintu dengan cukup ramah, namun saat chek-in di customer service agak lama menunggu untuk memperoleh kunci kamar. Saat masuk ke lift menuju lantai 2 (dua) terasa sangat sempit karena ukuran ruang lift yang terlalu kecil, hanya muat sekitar 3 (tiga) orang. Tidak ada lift lain yang beroperasi sehingga dapat mengurangi kenyamanan tamu terutama saat peak season.

Begitu keluar dari pintu lift lantai 2 (dua) sekonyong-konyong bau aroma rokok pun tercium di sepanjang selasar. Penciuman saya dan istri terhadap bau rokok ini sama, ini pertanda bahwa sistem penghawaan di sepanjang koridor atau selasar hotel tidak terlalu baik.

Kondisi kamar hotel yang kami tempati secara size lumayan besar (7,5 m x 4 m), sangat lega untuk pergerakan kami bertiga (dua dewasa + satu anak). Terdapat sofa plus meja di sebelah single bed berukuran king size yang dapat dipakai untuk duduk dan mengerjakan tugas-tugas dengan laptop. Lemari tempat menyimpan dan menggantungkan pakaian lumayan besar sehingga dapat menampung pakaian yang dibawa tanpa perlu menaruh di luar. Disampingnya terdapat meja kecil dan laci tempat menaruh koper dan sepatu atau sandal agar tersusun dengan rapi.

Selain beberapa kekurangan yang ditemui di hotel ini seperti lift yang sempit, aroma rokok yang tercium di koridor, juga adanya colokan listrik yang kurang memadai. Posisinya hanya ada 1 (satu) yaitu di meja yang bersebelahan dengan TV. Sementara kita tahu sendiri, gadget kini menjadi barang pokok bagi siapa saja sehingga kebutuhan tempat charge handphone dan alat elektronik lainnya semestinya dapat disediakan dengan baik oleh pengelola hotel.

Hal lain yang menjadikan agak aneh dari hotel ini adalah perangkat bidet shower di toilet kamar mandi dimana pegangannya berada di sebelah kiri, seolah-olah menyuruh pengunjung hotel untuk cebok dengan tangan kanan…hehe…Entahlah, mungkin waktu desain awal terjadi kesalahan yang tidak terdeteksi. Shower air panas dan dingin pada ruang mandi juga masih dibuat dalam 2 (dua) kran yang berbeda sehingga cukup sulit untuk menstabilkan suhu air yang keluar.

Kelebihan dari hotel ini hanya dari sisi ketersediaan sarapan yang cukup banyak variasinya, baik makanan berat, buah, maupun minuman. Jika ingin pergi untuk mencari makan siang atau malam di luar hotel, kita perlu berjalan kaki ke arah Sarinah Plaza di ujung pertemuan antara Jl. Wahid Hasyim dan Jl. MH. Thamrin. Namun jika ingin sekedar mencari makanan ringan, kita cukup berjalan kaki beberapa meter di sebelah kiri hotel (Jl. Cemara), di situ ada warung makan yang berjualan kebab dan martabak (Martabakku Menteng).

Sewaktu memutuskan memilih hotel ini, saya mempertimbangkan juga adanya tempat ber-renang (swimming pool), namun kekecewaan terpaksa muncul dari anak saya karena kedalaman airnya mencapai 1,5 meter. Artinya dia tak bisa turun meskipun sudah menggadang-gadang ingin mencoba kolam renang hotel sesampainya di sana.

Overall, jika Anda hanya ingin menginap dengan berprioritas pada size kamar (karena mungkin membawa anak atau family), hotel ini dapat menjadi alternatif untuk bermalam karena menyediakan satu kamar untuk maksimum 4 (empat) orang sekaligus. Lokasi juga tidak terlalu jauh dari Monas apabila Anda ingin mengajak keluarga ber-rekreasi ke sana. Untuk bepergian dengan Commuter Line atau KRL Jabodetabek, Anda dapat menuju Stasiun Gondangdia. Sementara halte TransJakarta terdekat berada agak jauh yaitu di depan Sarinah Plaza (Halte Sarinah). Pilihan tempat makan yang bervariasi (di luar hotel) hanya ditemui di Sarinah Plaza. Namun jika ingin sekedar membeli martabak atau kebab, Anda cukup berjalan kaki beberapa meter atau menuju minimarket Circle-K yang berada di seberang hotel. Namun demikian, kekurangan yang ditemui seperti lift yang sempit, bau aroma rokok, colokan listrik yang minim, dan bidet shower yang terbalik, menjadikan harga yang dibayar tidak sesuai dengan tingkat kenyamanan yang diperoleh. 

No comments: