Wednesday, October 11, 2017

Percobaan Pembunuhan Soekarno oleh Letda Udara Daniel Maukar, 9 Maret 1960

Dalam sejarahnya, Presiden pertama RI, Soekarno, telah mengalami beberapa kali upaya pembunuhan. Salah satunya yang cukup membahayakan dirinya adalah saat terjadinya percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh Letda Udara Daniel Maukar pada tanggal 9 Maret 1960.

Dalam buku yang berjudul "Top Secret Konspirasi" karya Afred Suci yang diterbitkan tahun 2015 oleh PT Sembilan Cahaya Abadi, disebutkan bahwa tak banyak orang mengetahui bahwa mantan Presiden Sekarno nyaris menjadi korban atas penembakan dari kokpit pesawat terbang canggih, MIG-17, oleh Letda Udara Daniel Maukar.

Pada sehabis subuh, 9 Maret 1960, "Tiger", panggilan udara Maukar melakukan tindakan yang sangat berani yang belum terkalahkan hingga hari ini, dengan melakukan manuver pesawat MIG-17, dengan memuntahkan peluru dari canon Nudelman-Rokhter NR-23 kaliber 23 mm yang terpasang di badan pesawat MIG-17. Pesawat berjenis subsonic ini mampu diterbangkan bak sebuah pesawat supersonic. Ia bisa melakukannya dengan cara menukik tajam ke bawah untuk menambah kecepatan melebihi kecepatan suara dan terbang sangat rendah untuk menghindari jangkauan radar.

Kehebatan Maukar sendiri dalam mempiloti pesawat tempur sudah sangat melegenda di kalangan AURI pada masa itu yang konon hanya dapat ditandingi oleh Komandan Skuadron 11, Mayor Udara Leo Wattimena. Namun sayangnya kehebatan itu digunakan untuk melakukan tindakan tak terpuji dan merongrong keselamatan nyawa presiden RI. Untungnya Soekarno terhindar dari upaya pembunuhan tersebut.

Sejak lepas landas dari bandara Kemayoran, pesawat terlebih dahulu menembaki kilang minyak Shell di Tanjung Priok, lalu mengarahkan pelurunya ke Istana Merdeka. Tak cukup di situ, Maukar lalu "menggeber" pesawatnya menuju Istana Bogor dan lagi-lagi menembakinya sebelum kemudian melesat ke arah Garut. Naas, pesawat mengalami masalah sehingga ia harus mendarat darurat di kawasan persawahan di Garut. Pengadilan lantas menghukumnya dengan hukuman mati. Meskipun dalam pengakuannya, Maukar hanya melakukan tindakan itu tanpa perencanaan dan hanya untuk menunjukkan betapa lemahnya koordinasi pengamanan presiden, namun darah Manado yang mengalir di tubuhnya membuatnya dituduh menjadi bagian dari gerakan pemberontakan Permesta.

Beruntung, Presiden Soekarno kemudian memberikan amnesti (ampunan) pada tahun 1961 dan pada tahun 1968 di era Soeharto, ia dibebaskan dari tahanan. Sebagai tanda syukur, selepas keluar dari penjara, ia mengabdikan seluruh hidupnya sebagai pendeta hingga tutup usia pada tanggal 16 April 2007 di RS Cikini Jakarta.

Daniel Maukar

No comments: