Friday, October 13, 2017

Patung Dirgantara a.k.a Patung Pancoran

Dalam buku "Soekarno Poenja Tjerita" karya @SejarahRI yang diterbitkan oleh Penerbit Bentang tahun 2016, diceritakan tentang kisah pembuatan Patung Dirgantara atau yang kini lebih populer dengan sebutan Patung Pancoran.

Patung tersebut dibuat oleh salah satu seniman Indonesia di masa Soekarno yaitu Edhi Sunarso yang merupakan pematung kesayangan Bung Karno. Ia pula yang ditunjuk membuat Patung Selamat Datang di Bundaran HI. Melihat keberhasilan Edhi dalam membuat Patung Selamat Datang, Bung Karno pun ketagihan dan terpikir untuk membuat Patung Pancoran dengan menunjuk kembali Edhi sebagai pematungnya.

Edhi sempat ragu menerima order dari Soekarno untuk mengerjakan Patung Pancoran karena ia belum pernah sama sekali membuat patung dari bahan perunggu, sedangkan keinginan Soekarno waktu itu jelas, agar Patung Pancoran dibuat dari bahan perunggu. Akan tetapi, bukan Bung Karno jika tidak bisa mengobarkan semangat orang. Dalam tempo singkat, Soekarno berhasil meyakinkan Edhi untuk menerima tawaran tersebut.

Bentuk dan gaya melambaikan tangan Patung Dirgantara diperagakan langsung oleh Soekarno di depan Edhi. Dengan simbol itu, Bung Karno ingin menampilkan keperkasaan bangsa Indonesia dalam bidang dirgantara.

Penyelesaian Patung Dirgantara sempat nyaris gagal ketika terjadi tragedi G30S 1965. Klimaksnya terjadi ketika MPRS menolak pertanggungjawaban Soekarno sehingga nasib Patung Dirgantara ikut terombang-ambing. Dalam statusnya sebagai tahanan politik dan dengan kondisi kesehatannya yang makin menurun, ia tetap nekad untuk menuntaskan proyeknya itu. Belakangan diketahui bahwa dana yang digunakan untuk menyelesaikan proyek Patung Dirgantara itu berasal dari hasil penjualan mobil pribadi Bung Karno.

Minggu, 21 Juni 1970, saat Edhi sedang berada di puncak Patung Dirgantara untuk menyelesaikan pengerjaannya, tiba-tiba di bawahnya melintas iring-iringan mobil jenazah. Salah seorang pekerjanya memberi tahu Edhi bahwa yang barusan lewat adalah iring-iringan mobil jenazah Bung Karno, sang penggagas Patung Dirgantara. Mendengar berita itu, lemas lunglailah Edhi. Air matanya menetes menahan kesedihan.

Sekalipun tidak pernah diresmikan oleh pemerintahan pengganti Soekarno namun keberadaannya masih diakui sampai sekarang. Patung Dirgantara dibangun di atas bundaran jalan di Pancoran, berdekatan dengan Markas Besar Angkatan Udara RI. Posisi patung membelakangi Jalan Raya Pasar Minggu sedangkan arah muka patung menghadap ke utara yang menunjukkan bahwa arah patung-patung monumen gagasan Soekarno umumnya menghadap ke arah Istana Presiden sebagai pusat kekuasaan tertinggi negara.

Menurut Dianthus Louisa Pattiasina dalam Jurnal Ilmiah Widya Volume 2 Nomor 1 Maret-April 2014, Patung Dirgantara ditampilkan dalam sosok atau figur laki-laki tanpa baju dengan seuntai kain terjuntai di bagian bahu dan pinggul yang tampak seolah tertiup angin. Ekspresi wajahnya keras, mulut mengatup, tatapan matanya tajam lurus ke depan. Otot-otot seluruh tubuhnya ditonjolkan secara berlebihan dari wajah sampai bagian kaki. Posisi kaki seolah sedang mengambil ancang-ancang. Tangan kanan menjulur ke depan sedangkan tangan kiri ditarik ke belakang. Gestur sosok demikian menjadi terbaca sebagai gerak melaju atau melesat menuju angkasa. Sosok patung terletak di atas pedestal melengkung sehingga memberi efek dinamika gerak laju dari gestur patung tersebut.  

Patung Dirgantara

Patung Pancoran

Patung Dirgantara



No comments: