Friday, October 6, 2017

Kopral Buntoro ; Sang "Penjemput" Mayor Jendral S. Parman

Menelusuri jejak para "pelaku" langsung di lapangan saat penculikan para jendral korban peristiwa G30S menjadi sangat penting untuk mencoba mencari sisi detail dalam menguak cerita yang sebenarnya di balik tragedi yang memilukan tersebut. Salah satu pelaku langsung yang saat itu ditugasi "menjemput" Jendral S. Parman adalah Buntoro.

Dalam buku "30 September ; Pelaku, Pahlawan dan Petualang" karya Julius Pour terbitan tahun 2010 sempat disinggung tentang keberadaan Kopral Buntoro sebagai anggota Yon I/Tjakrabirawa yang terlibat dalam G30S 1965. Buntoro adalah perwira kelahiran Kudus, Jawa Tengah, yang lulus pendidikan militer di Magelang pada tahun 1958. Awalnya, Buntoro merupakan anggota Batalyon 450/Diponegoro sebelum akhirnya dipindahkan ke Resimen Tjakrabirawa.

5 (lima) hari menjelang tanggal 5 Oktober 1965 (HUT ABRI), Buntoro mendapat briefing dari Komandan Kompi, Kapten (Inf) Soewarno, mengenai sikap Tjakrabirawa dalam menghadapi berita Dewan Jenderal yang diduga akan melakukan kudeta kepada Presiden Soekarno. Peristiwa inilah yang kemudian menyeret Buntoro pada pusaran peristiwa G30S 1965.

Briefing terakhir dilakukan pada pukul 01.00 WIB tanggal 01 Oktober 1965 dimana mereka diminta untuk "mengambil" para anggota dewan Jenderal guna dimintai keterangan serta tanggung jawab dengan menghadapkan kepada Soekarno. Yang salah diadili dan yang tidak salah dilepas. Dengan instruksi itu, Buntoro memahami bahwa bahwa sasaran harus "diambil" dalam kondisi hidup. Pukul 02.00 WIB, Buntoro dengan rekan sesama pasukannya di bawah komando Sersan Mayor Satar, mulai bergerak menuju sasaran yang sudah ditentukan yaitu Jendral S. Parman di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Menurut Buntoro, operasi berjalan dengan sukses karena mereka berhasil membawa Jendral S. Parman tanpa adanya perlawanan dan pertumpahan darah. Meski hanya memakai piyama, Jendral Parman dibawa dan tiba di Lubang Buaya pada pukul 03.40 WIB. Oleh Satar, Jendral S. Parman diserahkan kepada Letnan Kolonel Untung. Buntoro lalu beristirahat sembari menunggu perintah selanjutnya. Ada yang mencari kopi, ada yang mencari makanan kecil, dan sebagainya. Namun mereka terkejut ketika sekitar pukul 05.30 WIB tiba-tiba terdengar rentetan suara tembakan. Semakin bertambah kaget ketika Sersan Mayor Satar mengatakan bahwa Jendral Parman dan sejumlah jendral lainnya ditembak oleh sekelompok orang tidak dikenal, lalu jenazahnya dimasukkan ke dalam sumur. Juga disebutkan bahwa tidak ada reaksi apapun dari Untung melihat penembakan tersebut. (Dalam buku "Untung, Cakrabirawa, dan G30S" karya Petrik Matanasi tahun 2011, disebutkan bahwa Jendral S. Parman ditembak oleh Prajurit Satu Athanius Buang).

Buntoro kemudian mengambil kesimpulan bahwa ia dan rekan-rekannya telah tertipu. Untung telah melakukan kesalahan besar dalam operasi rahasia itu dimana eksekusi terhadap para jendral menyebabkan skenario awal G30S menjadi "berantakan" dan menyambar ke segala arah.

Mengetahui dirinya ditipu, Buntoro dan teman-temannya langsung mencari Untung namun tidak ketemu karena menurut informasi, ia bersama Sjam Kamaruzzaman telah meninggalkan tempat secara diam-diam. Mereka lalu terus mengejar sampai di Brebes tanggal 3 Oktober 1965 dan menginap di Pendopo Kabupaten. Tanggal 4 Oktober, Buntoro diperintah oleh Jendral Sabur, Komandan Tjakrabirawa, agar segera kembali ke induk pasukan. Ia pun akhirnya memutuskan kembali ke Jakarta.

Jendral S Parman

No comments: