Monday, October 9, 2017

Kesederhanaan Sosok Anton Apriyantono, Menteri Pertanian Era SBY

Ada cerita menarik seputar Anton Apriyantono saat-saat dirinya ditunjuk sebagai Menteri Pertanian era kepemimpinan SBY. Cerita ini termuat dalam Tabloid Republika “Dialog Jumat”, suplemen Harian Umum Republika edisi 18 September 2009.

Cerita ini bermula saat Pak Anton sedang mengajar di kampus IPB, tiba-tiba telepon genggamnya berdering. Suara penelpon di ujung sana mengaku bernama Sudi Silalahi, orang dekat SBY, yang memerintahkan agar ia segera menghadap ke Cikeas. Tentu saja Pak Anton ini tidak langsung 100% percaya. Mengapa ia, seorang pengajar kampus, tiba-tiba diminta menghadap SBY. Setelah diyakinkan bahwa memang benar SBY yang sedang menunggu kedatangannya maka saat itu juga Pak Anton cepat-cepat menuju Cikeas dengan menyetir mobil tuanya, Kijang, dengan didampingi rekan sepengajiannya, Dr Ahmad.

Setibanya di Cikeas, terdapat kejadian yang “unik” dan “lucu” dimana Pak Anton disangka oleh penjaga Puri Cikeas sebagai sopir (karena waktu itu ia sendiri yang menyetir mobilnya), sementara rekan di mobilnya tadi disangka sebagai Anton. Maka si penjaga tersebut meminta agar Pak Anton memarkirkan mobilnya di kapling yang sudah tersedia dan menunggu di ruang tunggu. Namun ternyata si penjaga tadi salah duga. Sosok yang dikira “sopir” tadi malah menuju tempat SBY berada sedangkan rekannya berjalan ke arah ruang tunggu. Pak Anton hanya berkomentar singkat, “Mungkin tas dan sepatu saya tidak sekinclong calon menteri lainnya” katanya sambil tertawa.

Dan memang banyak orang terkejut dengan terpilihnya Anton sebagai menteri SBY kala itu. Mungkin karena sosok Anton yang serba sederhana dan bukan politisi terkenal sehingga kemunculannya sebagai menteri membuat orang lain terperangah. Salah satu orang yang dekat dengan Pak Anton, Daisy Irawan, mahasiswa master IPB, menyatakan, “Hari ini kecele-lah orang-orang yang selama ini memandang rendah beliau. Gondoklah orang-orang yang mentertawakan kaus kakinya yang bolong. Terhinalah orang-orang yang hobi merendahkan orang karena hal-hal duniawi. Pak Anton yang sederhana, yang bertahun-tahun tidak punya TV karena menurutnya lebih banyak mudharat daripada manfaatnya, eh, hari ini menjadi menteri.”

Daisy pun menuturkan bahwa Pak Anton-lah yang secara tulus membantunya terlepas dari ancaman drop out dari program master IPB. Ruang kerja Pak Anton adalah ruang yang paling nyaman. Beliau juga tak segan meminjamkan buku-buku pribadinya. Begitu pula fasilitas internet gratis, komputer yang bisa dipinjam dikala komputer Daisy rusak, scanner yang juga boleh dipinjam manakala detik-detik terakhir penyusunan tesis.

Setelah kita membaca kisah yang dimuat di tabloid Republika di atas, kita dapat mengambil pelajaran bahwa kita tidak boleh sekali-kali meremehkan orang lain yang menurut kita jauh berada di bawah kita, baik dari segi penampilan, kekayaan, kedudukan, kepintaran, dan lain-lain. Jangan sampai kita malu sendiri dengan segala kepongahan dan kesombongan kita. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah SWT untuk merubah takdir seseorang. Yang hari ini kaya, suatu saat bisa jatuh miskin. Yang hari ini mempunyai kedudukan, suatu saat bisa jatuh kedudukan itu. 

anton apriyantono

No comments: