Saturday, October 28, 2017

Jokowi, dari Bangku Kuliah Sampai Menjadi Walikota Solo (Bagian I)

Cerita ini dikutip dari sebuah buku berjudul "The Jokowi Secrets" yang ditulis oleh Agus Santosa dan diterbitkan oleh Gradien Mediatama, Yogyakarta, pada tahun 2014.

Jokowi mengenyam bangku kuliah untuk mewujudkan impian ayahnya : "jadi orang". Ia senang bisa menjalani kuliah di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Selama kuliah, ia tinggal di sebuah rumah kost yang sangat sederhana. Sehari makan 2 (dua) kali dengan lauk seadanya : tempe, sayur, dan kerupuk. Meski serba terbatas, Jokowi sangat menikmati masa kuliahnya di UGM. Ia bisa mengasah jiwa mudanya yang kritis dengan mengikuti berbagai diskusi tentang isue-isue sosial politik, bukan aksi politik praktis. Ia senang menikmati musik dan gemar mendaki gunung. Jokowi adalah anggota Silvagama, Mapala-nya Fakultas Kehutanan UGM. Ada banyak gunung yang sudah pernah dijejaki termasuk Gunung Kerinci di Sumatera.

Pasca lulus dari kuliahnya, Jokowi ingin segera mewujudkan impiannya sejak awal masuk kuliah yaitu merintis bisnis perkayuan. Pemikirannya simple saja bahwa ia ingin mengembangkan hidupnya di Solo melalui pekerjaan di dunia perkayuan untuk memperbaiki taraf hidup keluarganya. Sesuatu yang memang telah menjadi cita-citanya sejak menyaksikan keprihatinan demi keprihatinan di masa kecil. Baginya, keterbatasan hidup merupakan sinyal untuk bergerak menjadi lebih baik, bukan pemberhentian nasib yang tidak menjanjikan perubahan. Semangat ini berangkat dari sikap Jokowi yang melihat kehidupan sulit sebagai hal yang wajar. Tidak perlu merasa miskin ketika kita berada dalam kondisi kekurangan. Merasa miskin hanya pantas disematkan kepada orang-orang yang putus harapan dan tak memiliki semangat apa-apa lagi untuk mengubah nasib.

Jokowi yang bergelar Ir kemudian memutuskan untuk masuk kawasan hutan di Aceh Tengah. Ia melamar bekerja di PT Kertas Kraft Aceh. Ia tidak bekerja di pabrik tetapi di hutan rimba. Ia ingin mengumpulkan modal untuk memulai usahanya. Tahun 1985, Jokowi berangkat ke Aceh. Setiap hari ia bekerja menebang pohon besar. Setiap malam tiba, sepi mengiringi tidurnya dan hanya ada suara babi hutan yang terdengar.

Setelah beberapa bulan bekerja di hutan, Jokowi menyempatkan pulang ke Solo untuk menikah. Ia lalu membawa istrinya, Iriana, berbulan madu di hutan Aceh Tengah. Pengantin baru itu masuk hutan !. mereka menetap di sebuah rumah panggung panjang yang disediakan perusahaan dan sudah dibuat menjadi beberapa petak sebagai tempat tinggal pekerja dan keluarganya. Iriana adalah perempuan pemberani. Ia hanya memiliki satu permintaan agar jika hamil dan melahirkan, tidak tinggal di hutan lagi.

Tinggal di hutan bukan saja membutuhkan tekad baja namun juga harus tahan banting, tubuh tidak boleh ringkih. Setiap malam, ada ratusan babi hutan yang berduyun-duyun mendekati rumah panggung mereka. Kawanan celeng itu bergerak bergerombol, berlarian sambil mengeluarkan suara memekik yang membuat telinga pekak. Iriana biasanya hanya menindih telinganya dengan bantal ketika kawanan babi hutan itu mendekati rumah panggung.

Setelah 2 (dua) tahun lebih menetap di hutan, pada tahun 1988, Jokowi memutuskan untuk pulang ke Solo. Ia merasa sudah memiliki cukup modal untuk memulai pekerjaan baru. Jokowi dan Iriana lantas menempati rumah kontrakan yang sederhana di Banyuanyar. Ia mulai merintis bisnis pengolahan kayu, tepatnya usaha mebel. Jokowi terlebih dahulu belajar dan bekerja kepada Pakdhe Miyono, kakak dari ibunya yang memiliki pabrik mebel CV Roda Jati. Jokowi belajar dari dasar-dasar mengamplas, menggergaji, menyerut, memelitur, dan mengecat. Ia juga terkadang ikut mengangkat mebel yang siap dikirim ke pembeli, untuk dimasukkan ke dalam kontainer.

Setahun berguru kepada Pakdhe Miyono, Jokowi memberanikan diri keluar dan mencoba berbisnis sendiri dengan mendirikan CV Rakabu. Ia merekrut 3 (tiga) pekerja, meski ia pun tetap ikut turun tangan. Ia semakin optimis setelah mendapat tambahan modal sebesar Rp 15 juta dari ayahnya. Order demi order mulai mengalir. Namun Jokowi harus berhadapan dengan kenyataan pahit. Tahun 1990 ia mendapat order cukup besar dari Jakarta dengan nilai pesanan mencapai Rp 60 juta. Ia bersama tiga pekerjanya bekerja penuh semangat. Pesanan pun dikerjakan sesuai janji dan segera dikirim ke alamat tujuan. Namun setelah barang diterima pembeli, pembayaran tidak pernah diterima. Pembeli itu raib, menghilang tanpa jejak. Jokowi ditipu habis-habisan. Uang pinjaman dari ayahnya ludes. Tidak ada lagi modal untuk menjalankan bisnisnya.


jokowi

No comments: