Thursday, October 19, 2017

Ibu Aisyah, Tuna Netra Kebon Nanas yang Pantang Menyerah

Meskipun dulu pernah mengalami kehidupan ibu kota yang sangat keras, namun di awal kedatangan saya yang kedua dari Februari sd November 2016 lalu, saya tetap mengalami shock of culture. Banyak sekali sisi kehidupan di Jakarta yang dapat kita lihat sehari-hari, yang mengungkapkan berbagai macam pahit getirnya kehidupan manusia di dalamnya. Namun di balik itu ada juga sosok manusia yang dapat memberikan pembelajaran dan motivasi tentang bagaimana kita harus mampu bertahan dalam situasi yang sulit.

Pada hari Sabtu pagi, 13 Februari 2016, saya beranjak dari kost-an di bilangan Tebet Barat Dalam sekitar pukul 07.00 WIB bersama rekan eks kantor yang menumpang sehari bermalam di kost. Dia hendak menuju bandar udara Halim dalam perjalanan kembali ke Surabaya setelah mengikuti rapat kerja di Jakarta sekitar 2 (dua) hari. Setelah mengantar beliau sampai depan jalan besar untuk men-carter taxi Blue Bird, saya lalu melanjutkan perjalanan sendiri ke arah Cikokol untuk suatu keperluan.

Dengan mengambil rute yang disarankan oleh kawan, akhirnya saya naik bus di pertengahan perjalanan, tepatnya bus AC jurusan Bekasi – Tangerang. Rencananya saya akan turun di Tangcity Mall untuk selanjutnya berjalan kaki menuju lokasi janjian dengan kawan kantor.

Saat bus berhenti sebentar di bilangan Jakarta Barat (lupa lokasinya), naiklah seorang ibu berjilbab sekira umur 45 - 50 tahun yang kemudian duduk di samping saya. Rupanya ibu itu memiliki kekurangan fisik berupa hilangnya indera penglihatan alias tuna netra. Saya berfikir, mengapa ia hanya bepergian seorang diri tanpa ditemani oleh suami, anak, kerabat, atau siapa saja yang sudah dikenalnya. Bepergian seorang diri dengan kekurangan penglihatan dan di tengah-tengah hiruk-pikuknya Jakarta yang serba keras dan tak kenal kompromi tentunya menjadi penghalang yang serius. Saya sendiri sebagai orang yang masih dikarunia panca indera yang lengkap, kadang masih merasa was-was dan khawatir dengan keselamatan diri saat bepergian.

Saya -yang tadinya tidak begitu tertarik menggali latar belakang ibu Aisyah ini- mencoba memberanikan diri untuk melakukan fact finding, sekedar ingin tahu apa yang terjadi sehingga ia harus berperjalanan seorang diri. Rupanya ibu Aisyah ini harus berjuang menjadi single parent bagi dua atau tiga (saya tak begitu jelas) anaknya. Itu terjadi sejak suaminya memutuskan meninggalkan rumah dan tinggal di kota Bogor sejak tahun 2009. Ia memang terlihat sedikit emosional ketika mengatakan bahwa suaminya itu seolah meninggalkan keluarganya begitu saja tanpa memberikan nafkah dan biaya pendidikan anaknya. Entahlah apa reaksi Anda jika mendengar pertama kali kisah ini, tapi bagi saya, awal cerita ini sudah menyuguhkan sajian yang menyayat hati. Saya juga coba tanya, apakah ia tinggal dengan anak-anaknya. Ia bilang, anak pertamanya ikut keponakan belajar bekerja, artinya belum jelas masa depan anak tersebut. Anak kedua dikatakan disuruhnya untuk ikut yayasan, mungkin semacam yayasan Islam, agar ia bisa terjaga agamanya dan juga agar hidup mandiri. Tapi rupanya keinginannya ditentang anaknya. Mungkin anaknya itu sendiri bukan tipe yang suka hidup di lingkungan terbatas dan tidak suka diatur sedemikian rupa sehingga menghambat kebebasan bermainnya.

Inilah salah satu episode kehidupan dari seorang ibu, diantara berjuta-juta episode kehidupan yang berbeda-beda antara satu keluarga dengan keluarga yang lain. Perih mendengarnya, meski ibu Aisyah mengutarakannya dengan mimik biasa saja, tidak ada air mata kesedihan yang terlihat. Mungkin ia hanya akan mengeluarkan air mata dan menangis saat di keheningan malam ketika bersujud di hadapan-Nya, menumpahkan segala permasalahan dan persoalan hidup yang cukup pelik dan membelitnya terus-menerus.

Ibu Aisyah ini boleh dibilang sosok yang sangat tegar dan kuat menghadapi keras dan pahitnya kehidupan. Terbukti ia masih mampu dan bisa meluangkan waktu di sela-sela profesinya sebagai tukang pijit tunanetra untuk belajar mengaji Qur’an di Pondok Cabe, bukan di lokasinya dia tinggal di Kebon Nanas (saya sendiri tak faham, seberapa jauh dan seberapa rumitnya perjalanan dari situ ke Pondok Cabe). Ketika saya tanya, mengapa ngaji-nya tidak di Kebon Nanas saja yang dekat dengan rumah ?. Ibu itu bilang karena sistem ngajinya lebih enak di Pondok Cabe karena ada ustadz yang memantaunya dan memandunya secara langsung, sedangkan di Kebon Nanas belum ditemukan guru ngaji yang seperti ia harapkan. Ia biasanya berangkat ke Pondok Cabe di hari Jum’at, lalu kembali ke rumahnya lagi di hari Sabtu. Makanya saya dapat berjumpa dengan ibu ini di hari Sabtu, saat ia menaiki bus yang sama dengan bus yang saya naiki.

Ia tetap seorang ibu, sama dengan ibu Anda-Anda semua, yang tentunya sedapat mungkin dihormati dan dilayani, diantar kemana ia mau pergi. Ibu Aisyah, seorang figur ibu dengan keterbatasan fisik yang menyulitkan geraknya namun semangat hidup dan niat belajar agamanya patut diacungi jempol. Bisa jadi sangat jauh dengan kita yang masih dikaruniai panca indera yang sempurna, keluarga yang lengkap, dan rizki yang berlebih, namun belum mampu mensyukuri segala nikmat-Nya dengan benar.

bus

bus


No comments: