Wednesday, October 18, 2017

Gebrakan Tangan Jenderal M. Yusuf ke Meja Rapat yang Membuat Soeharto Kaget !

Pada tahun 1969 ketika situasi keamanan dan ketertiban nasional sudah dirasa stabil pasca peristiwa G30S 1965, Presiden Soeharto menyerahkan jabatan Menhankam/Pangab kepada Jenderal M. Panggabean yang berhasil menjabat dalam kurun waktu lama.

Ketika pada masanya, Panggabean sudah harus diganti, muncul beberapa nama yang dirasa cocok, seperti Jenderal TNI Surono, Jenderal TNI Umar Wirahadikusumah, dan Jenderal TNI Widodo. Namun muncul kejutan ketika Presiden Soeharto mengumumkan nama-nama personil Kabinet Pembangunan III. Salah satunya adalah penunjukkan Jenderal TNI M. Jusuf sebagai Menhankam/Pangab dimana pangkatnya dinaikkan menjadi jenderal bintang empat.

Penunjukkan Jenderal M. Yusuf tentu bukan tanpa alasan. Soeharto menginginkan orang luar Jawa yang dapat dipercaya dan tidak mungkin akan menggeser kedudukannya sebagai presiden. Sebagai orang Makassar, M. Yusuf dipandang memiliki peluang yang tipis untuk menggoyang kedudukan Soeharto. Namun hanya selang 5 (lima) tahun, apa yang nampaknya tak mungkin menjadi mungkin terjadi. Popularitas M. Yusuf terus meroket secara konsisten. Jika pada waktu itu Indonesia sudah mengenal pemilihan presiden secara langsung, maka kans M. Yusuf untuk menang sangat besar. Sesuatu yang jelas tidak disukai Presiden Soeharto.

Muncul kabar burung yang mengatakan bahwa M. Yusuf sedang menggalang dukungan untuk menggantikan Soeharto sebagai presiden. Simpati yang diraih M. Yusuf tidak saja berasal dari kalangan tentara namun juga dari masyarakat sipil. Jenderal M. Yusuf menuai pujian dari berbagai kalangan. Maka dibuatlah inisiatif dari Presiden Soeharto untuk "menegur" Jenderal M. Yusuf dalam sebuah rapat bersama di kediaman Soeharto di Cendana. Yang hadir waktu itu antara lain Mensesneg Sudharmono, Sekkab Moerdiono, Asintel Hankam Letjen LB. Moerdani, Mendagri Amirmachmud, dan Menhankam/Pangab Jenderal M. Yusuf.

Mendagri Amirmachmud berbicara dengan nada menyindir bahwa ada suara-suara yang mengatakan bahwa dengan semakin populernya Jenderal M. Yusuf maka diduga ada "ambisi-ambisi tertentu" dari Jenderal M. Yusuf yang perlu ditanyakan kepada yang bersangkutan.

Tiba-tiba Jenderal M. Yusuf marah dan menggebrak meja dengan tangannya. Dengan suara keras ia berkata, "Bohong !. Itu tidak benar semua !. Saya ini diminta untuk jadi Menhankam/Pangab karena perintah Bapak Presiden. Saya ini orang Bugis, jadi saya sendiri tidak tahu arti kata kemanunggalan yang bahasa Jawa itu. Tapi saya laksanakan perintah itu sebaik-baiknya tanpa tujuan apa-apa !".

Semua yang hadir waktu itu terdiam. Belum pernah ada orang yang berani menggebrak meja di hadapan Presiden Soeharto dalam kondisi apa pun. Adalah Presiden Soeharto sendiri yang kemudian berusaha memecahkan kekakuan saat itu. Dengan dana dalam ia berkata, "Sudah, sudah !. Karena suasana tidak memungkinkan lagi, rapat kita akhiri sampai sekian saja. Nanti pada waktu yang tepat, kita akan panggil lagi".

Sejak saat itulah, hubungan antara M. Yusuf dan Soeharto menjadi renggang. Hingga berhenti dari jabatan kenegaraan yang terakhir pada tahun 1993, M. Yusuf tidak pernah mengunjungi Presiden Soeharto di setiap hari raya Idul Fitri, walaupun kedua-duanya tinggal di kawasan Menteng selama lebih dari 30 (tiga puluh) tahun.

Kisah di atas dapat Anda baca dalam sebuah buku berjudul "Sintong & Prabowo : Dari 'Kudeta' L.B. Moerdani sampai 'Kudeta' Prabowo" karya A. Pambudi, terbitan MedPress tahun 2009. 

Jenderal M. Yusuf

No comments: