Sunday, October 8, 2017

Asal Mula Bisnis Soeharto dengan Pengusaha Cina

Dalam buku "Ganti Rezim Ganti Sistim, Pergulatan Menguasai Nusantara" karya Sri Bintang Pamungkas terbitan tahun 2014, disebutkan sejumlah "kerajaan" bisnis Soeharto yang dijalankan melalui berbagai yayasan yang dibuatnya, diantaranya RS Harapan Kita, pabrik kertas Kiani, pabrik kabel Kabelindo, flour mill Bogasari, dan pabrik kimia Chandra Asri.

Hobi Soeharto mendirikan yayasan-yayasan itu tidak terlepas dari pengalamannya sewaktu menjabat sebagai Komandan Teritorial-IV (yang kemudian berubah menjadi Divisi-VII Diponegoro) pada tahun 1956. Dalam jabatannya sebagai komandan itu, dia memprakarsai pembentukan badan-badan koperasi di seluruh wilayah kesatuan Diponegoro dengan maksud untuk meningkatkan kesejahteraan prajurit dan masyarakat sekeliling, antara lain dengan melakukan kegiatan perdagangan antar pulau dan ekspor-impor. Di situ dia dibantu oleh Soetikno alias Lie Tek Liong, seorang pedagang dari Sindang Laut, Cirebon. Pada waktu Soeharto terkena tuduhan melakukan tindakan korupsi dalam menjalankan bisnisnya (yang melibatkan uang Kodam Diponegoro) dan sempat diperiksa beberapa kali, Soetikno inilah yang rela "pasang badan" menjadi joki dan divonis bersalah.

Meskipun demikian, penasehat bisnis Soeharto yang sesungguhnya adalah Bob Hasan, bukan Soetikno. Bob Hasan yang nama aslinya The Kian Seng, juga bertemu dengan Soeharto ketika Soeharto menggantikan posisi Jendral Gatot Soebroto sebagai Komandan TT-IV Diponegoro. Kian Seng adalah anak angkat Gatot Soebroto sesudah mobil yang dipakai sang jendral menabraknya. The Kian Seng lalu mengubah namanya saat masuk Islam, menjadi Bob Hasan yang ternyata sangat piawai menjalankan bisnisnya.

Selain bertemu dengan Kian Seng, Soeharto ketika menjabat Panglima Divisi Diponegoro juga bertemu dengan Liem Sioe Liong, pedagang yang memulai usahanya di Kudus sebagai penyalur cengkih untuk pabrik-pabrik rokok yang banyak berdiri di sana. Ia juga menjadi penyalur tekstil yang dilakukannya dengan cara mengimpor dari Cina. Lewat Soeharto inilah, Sioe Liong berhasil memegang hak monopoli pengadaan sabun dan keperluan rumah tangga tentara di lingkungan Divisi Diponegoro.

Perihal korupsi yang dilakukan Soeharto semasa menjabat Panglima Divisi Diponegoro ternyata diketahui oleh Gatot Soebroto dan Ahmad Yani. Ketika itu Ahmad Yani sudah menjadi assisten Mayjend Nasution. Ahmad Yani sempat marah dan mengusulkan agar Soeharto dipecat dari Angkatan Darat. Akan tetapi karena dibela oleh Mayjend Gatot Suebroto yang saat itu menjabat sebagai Wakil Kasad, Soeharto terlepas dari ancaman pemecatan dan hanya diwajibkan bersekolah di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SSKAD) di Bandung.

Liem Sioe Liong

No comments: