Monday, September 25, 2017

Siapa Serma Boengkoes ; Salah Satu "Algojo" Tragedi G30S 1965

Serma (Sersan Mayor) Boengkoes adalah salah satu nama penting yang tidak dapat dipisahkan dalam detik-detik peristiwa berdarah G30S 1965. Ia adalah salah satu pelaku langsung tragedi G30S dimana pria berdarah Madura ini ditugaskan untuk "menjemput" Mayor Jenderal MT Haryono, Deputi III Menteri/Panglima AD.

Nasib yang mengubah jalan cerita Boengkoes terjadi ketika dalam peristiwa G30S 1965, ia secara resmi telah bergabung dalam Resimen Khusus Tjakrabirawa yang dibentuk sebagai suatu resimen khusus di bawah Presiden dan diberi tanggung jawab penuh guna menjaga keselamatan pribadi Presiden. Pembentukan Resimen Tjakrabirawa ini merupakan respons strategis atas upaya pembunuhan terhadap Presiden Soekarno pada tanggal 14 Mei 1962 saat melakukan sholat Iedul Adha di Masjid Baiturrahman, Kompleks Istana Merdeka, Jakarta.

Jauh sebelum itu, Bongkoes mengawali karier kemiliterannya saat bergabung dalam Batalyon "Semut Merah" di Situbondo. Setelah pasukan "Semut Merah" dihancurkan Belanda, ia kemudian bergabung dengan Batalyon "Andjing Laut" di Bondowoso, dimana di sana ia bertemu dengan Doel Arief yang kelak saat operasi G30S 1965 adalah atasan Boengkoes.

Selanjutnya, seluruh personil "Andjing Laut" bergabung dengan Divisi Diponegoro di Salatiga dimana nomor batalyon diubah dari 701 menjadi 448. Nama "Andjing Laut" masih dipertahankan yang kemudian menjadi bagian dari Brigade Infanteri. Secara mengejutkan, Boengkoes bertemu kembali dengan Doel Arief yang menjadi komandannya waktu itu.

Karena tergabung dalam Brigade Infanteri, Boengkoes disekolahkan ke Sekolah Kader Infanteri. Setelah itu ia dipindah ke Cadangan Umum di Salatiga yaitu Pasukan Garuda I dan II yang baru pulang dari Kongo. Ketika bergabung di Cadangan Umum inilah, Boengkoes direkrut masuk Banteng Raiders I di Magelang yang kemudian berlanjut dengan perekrutan dirinya sebagai pasukan Tjakrabirawa. Apabila Serma Boengkoes tidak jadi bergabung dengan Resimen Tjakrabirawa, mungkin kisah perjalanan hidupnya tidak akan "senaas" yang dialaminya saat peristiwa G30S 1965. Ia sendiri pernah menceritakan bahwa ketika mengikuti seleksi Tjakrabirawa, ia mengaku tengah menderita wasir dan disentri sehingga sesaat setelah mengikuti test kesehatan, ia langsung meninggalkan rumah sakit militer di Semarang. Namun, ajaib, keesokan harinya, ia diberi tahu bahwa ia dinyatakan lulus test.

Sebelum melakukan "penjemputan" terhadap Mayjend MT Haryono, ia telah mengikuti "briefing" pada tanggal 30 September 1965 pukul 15.00 WIB dimana dalam briefing tersebut dikatakan akan ada sekelompok jenderal yang tergabung dalam "Dewan Jenderal" yang akan melakukan "coup" kepada Presiden Soekarno.

Sebagai manusia biasa, sebenarnya dalam hati Boengkoes muncul "pertentangan" batin saat tiba di kediaman MT Haryono, antara melanjutkan operasinya atau tidak. Namun karena terikat sumpah jabatan prajurit, ia terpaksa harus mengikuti perintah atasannya, yaitu Doel Arief. Tenggang waktu "penjemputan" pun terbilang sangat singkat, antara 15 - 20 menit, tidak dihitung waktu keberangkatan. Saat Boengkoes mengetuk pintu dan meminta ijin untuk masuk, tidak ada reaksi dari penghuni rumah. Pintu dan jendela semua dikunci dari dalam dan keadaan sangat gelap akibat semua lampu dimatikan oleh pemilik rumah saat kebiasaan tidur.

Akhirnya didobraklah pintu itu dan Boengkoes sekilas melihat kelebatan "bayangan putih" sehingga secara refleks, ia menarik pelatuk dan terjadilah penembakan itu. Pada sekitar pukul 05.30 WIB tanggal 1 Oktober 1965, Boengkoes beserta pasukannya sudah tiba di tempat semula. Baru ketika matahari sudah mulai beranjak naik (sekitar pukul 08.30 pagi), dilakukanlah eksekusi terhadap para jenderal lain yang masih hidup. Malam harinya, ia dipindahkan ke suatu tempat, dan pada tanggal 2 Oktober 1965, Boengkoes pulang ke asrama, namun kemudian ditangkap dan dibawa ke suatu tempat lain, yang ternyata adalah LP Cipinang (kelak dibebaskan dari penjara pada tanggal 25 Maret 1999).

Boengkoes ketika mengetahui cerita sebenarnya terkait G30S 1965 mengatakan sangat menyesal. Bahkan ketika keluar dari penjara pun, ia bertanya-tanya apakah nanti dapat diterima lagi oleh masyarakat atau tidak.

Dengan adanya alur cerita di atas, sangat kecil kemungkinan Serma Boengkoes adalah anggota atau kader PKI. Ia hanya seorang prajurit TNI yang berupaya untuk menjalankan perintah atasan dan mematuhi sumpah prajurit, demi kepentingan bangsa dan negara, apalagi menyangkut hidup matinya presiden yang menjadi tanggung jawabnya sebagai anggota Resimen Tjakrabirawa. Serma Bongkoes hanya "bernasib tidak baik" karena pada saat G30S 1965, ia berhasil "diperalat" oleh "kepentingan" lain yang jauh lebih besar. 

(Dari berbagai sumber).


No comments: