Sunday, September 24, 2017

Siapa Dalang Dibalik Peristiwa G30S 1965 ?

Menurut Drs. Andi Suwirta, M.Hum, staf pengajar di Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), sedikitnya terdapat 5 (lima) versi tentang dalang di balik peristiwa G30S 1965 [Historia : Jurnal Pendidikan Sejarah, No. 1, 2000].

Versi Pertama

Menurut versi pertama, dalang dari peristiwa G30S 1965 yang ditandai dengan pembunuhan para Jenderal TNIA AD adalah PKI. Dengan menyebar isue adanya Dewan Jendral yang akan melakukan coup terhadap Presiden Soekarno, PKI berhasil membujuk para perwira menengah TNI AD yang dinilai "kiri" untuk menculik para jenderal itu. Dengan cara itu, PKI bisa melakukan "lempar batu sembunyi tangan" sehingga pada gilirannya, PKI dapat menguasai Indonesia dan menggantikan ideologi Pancasila dengan komunisme. Selama 30 tahun, dunia pendidikan di Indonesia didominasi oleh interpretasi versi pemerintah Orde Baru ini yang mempopulerkan peristiwa tersebut dengan "G30S/PKI".

Versi Kedua

Versi kedua ini berasal dari para akademisi dari Universitas Cornell, Amerika Serikat, yang kemudian terkenal dengan sebutan Cornel Paper. Menurut versi ini, peristiwa G30S 1965 merupakan masalah internal AD, khususnya kelompok militer yang berasal dari Divisi Diponegoro, Jawa Tengah. Peristiwa itu lebih merupakan revolusi perwira menengah (Mayor, Letnan Kolonel, dan Kolonel) terhadap para perwira tinggi AD (Brigjen, Mayjen, Letjen, dan Jendral) yang berasal dari Divisi Diponegoro. Ketidakpuasan para perwira menengah terhadap para perwira tinggi AD itu menyangkut nilai-nilai, etika, dan semangat revolusi 45 dimana kesederhanaan, kejujuran, solidaritas, kesetiaan dan nilai-nilai hidup ideal lainnya merupakan tolok ukur utama bagi perwira sejati di manapun dan kapan pun ia berada.

Versi Ketiga

Versi ini datang dari seorang sejarawan Barat bernama Antonie C.A. Dake yang menyatakan bahwa tidak menutup kemungkinan, dalang utama peristiwa G30S 1965 adalah Presiden Soekarno sendiri. Dalam hal ini, ketika Presiden Soekarno melakukan politik konfrontasi dengan Malaysia pada tahun 1964, secara diam-diam, AD (Angkatan Darat) termasuk yang menolaknya. Sebagai Panglima Tertinggi ABRI, sesuai Konstitusi UUD 1945, Presiden Soekarno merasa perlu "menjewer" para Jenderal TNI AD yang membangkang itu. Itulah sebabnya, Soekarno "merestui" tindakan Letkol Untung untuk "mengamankan" para Jenderal AD pada 30 September 1965. Soekarno juga berada di daerah Halim, markas tempat pelaku utama G30S 1965 berada. Dan ketika Brigjen Soepardjo, salah satu pelaku utama G30S 1965 melaporkan bahwa para Jenderal AD itu sudah "dibereskan", Soekarno segera memeluk perwira tinggi itu dengan menepuk-nepuk punggungnya. Dalam setiap kesempatan pun, setelah peristiwa G30S berlalu, Soekarno menyatakan bahwa peristiwa itu hanya merupakan "riak kecil dalam sebuah gelombang samudera revolusi Indonesia yang dahsyat". Soekarno juga tidak menunjukkan simpati atas kematian para Jenderal AD dengan tidak menghadiri prosesi pemakamannya serta tidak mau mengutuk PKI sebagai dalang utama peristiwa itu sebagaimana dituntut oleh pihak AD.

Versi Keempat

Versi ini dilontarkan oleh seorang sosiolog dan sejarawan Belanda, W.F. Wertheim, yang menyatakan bahwa dalang dari peristiwa G30S 1965 adalah Jenderal Soeharto. Hal ini dibuktikan bahwa ketiga pelaku utama G30S yaitu Kolonel Untung, Letkol Latief, dan Syam Kamaruzaman, adalah bekas anak buah dan teman baik Soeharto sejak jaman revolusi Indonesia. Ketika Untung melangsungkan pernikahan pada tahun 1950-an, Soehartolah yang bertindak sebagai walinya. Seoharto pula yang didatangi Letkol Latief pada tanggal 30 September 1965, yang melaporkan akan adanya G30S walaupun dalam perkembangannya kemudian dibantah Soeharto. Sementara itu, Syam Kamaruzaman dianggap sebagai intel "dwi-fungsi" yang melayani intelijen PKI maupun AD. Bahkan menurut Wertheim, tokoh intel ini sengaja disusupkan oleh AD untuk memprovokasi tindakan PKI yang sudah lama menjadi musuh AD.

Versi Kelima

Versi ini datang dari mantan pejabat intelijen Amerika Serikat, Peter Dale Scott, yang menyatakan bahwa peristiwa G30S 1965 didalangi oleh CIA. Menurutnya, sejak Soekarno mengemukakan gagasan tentang perlunya sistem politik Demokrasi Terpimpin, ia meminta bantuan Uni Sovyet untuk membebaskan Irian Barat (1962), membentuk poros Jakarta-Peking-Pyongyang (1964), dan melakukan konfrontasi dengan Malaysia (1964). Amerika Serikat tidak senang dengan tindakan Soekarno yang ingin menjadi pemimpin baru bagi negara Asia, Afrika, dan Latin Amerika.

Penutup

Dari sejumlah versi di atas, mana versi yang paling benar ?. Peristiwa ini begitu kompleks dan para pelaku yang terlibat sedemikian banyak. Menonjolkan peran tokoh tertentu akan berarti mengabaikan peran tokoh lainnya. Dalam hal ini, pendapat M.C. Ricklefs, sejarawan dari Australia, mungkin patut disimak 

"Oleh karena rumitnya situasi politik dan perasaan-perasaan benci yang mempertalikan sebagian besar para pelaku utamanya satu sama lain, serta sifat yang mencurigakan dari sebagian besar bukti-bukti, maka tidak akan pernah diketahui kebenaran yang sepenuhnya. Tampaknya mustahil hanya ada satu dalang yang mengendalikan semua peristiwa itu, dan tafsiran-tafsiran yang berusaha menjelaskan kejadian-kejadian tersebut secara tunggal itu harus dipertimbangkan secara hati-hati".



1 comment:

Rija Ahmad said...

mengetahui lebih dari satu sumber itu sangat bijaksana..