Friday, September 29, 2017

Mengenal Masjid Sultan Singapura

Diakui bahwa Singapura memiliki “kecerdikan” dalam melakukan strategi pengembangan wisata sehingga cukup banyak wisatawan asing yang tertarik mengunjungi negara ini, salah satu "kecerdikan" itu adalah memanfaatkan tempat ibadah sebagai objek wisata, antara lain bangunan atau tempat ibadah umat muslim bernama Masjid Sultan yang berada di daerah Bugis, Singapura.

Secara arsitektural, bangunan Masjid Sultan mengadopsi desain Saracenic style, campuran gaya arsitektur India, Arab, dan Gothic. Arsiteknya bernama Denis Santry yang bekerja di perusahaan konsultan arsitek Swan and Maclaren yang bermarkas di UK. Pengaruh Mogul tercermin dari adanya 2 (dua) kubah berwarna emas yang di puncaknya terdapat bulan sabit dan bintang sebagai simbol bangunan Islam. Empat menara yang menjulang di setiap pojok masjid memiliki tangga sampai ke balkon tower dimana muadzin mengumandangkan adzan. Ruang sholat terdiri dari 2 (dua) lantai yang ditopang oleh 12 (dua belas) kolom oktagonal. Masjid ini dapat menampung sekitar 5000 jamaah dan didukung oleh 2 (dua) gedung serba guna.

Masjid ini selain masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah kaum muslim, juga telah dijadikan objek wisata oleh pemerintah Singapura sehingga non muslim pun dapat melihat Masjid Sultan, namun dengan catatan, pakaian harus sopan (perempuan akan dipinjamkan kain selendang penutup kepala). Wisatawan non muslim tidak diperbolehkan masuk ke ruang sholat utama, hanya sekedar melihat dari koridor depan atau samping masjid. Di teras masjid terdapat display berbahasa Inggris yang berisi prinsip dasar ajaran Islam, bagaimana Islam memandang perempuan, dan mengapa perempuan Islam wajib memakai pakaian muslimah atau jilbab. Histori Masjid Sultan sendiri juga dapat dibaca pada display lain di tempat itu. Pada saat saya ke Masjid Sultan beberapa tahun lalu, terdapat beberapa pekerjaan renovasi atau upgrading masjid, salah satunya adalah pemasangan lift di lantai dasar untuk memudahkan jamaah terutama penderita disabilitas dan jamaah orang tua (usia > 65 tahun) yang selama ini mengalami kesulitan karena harus menaiki sejumlah anak tangga yang curam dan banyak jumlahnya.

Apabila Anda turun di EW 12 Bugis MRT Station, keluarlah dari sana dan susuri Victoria St, melewati Raffles Hospital, Ophir Rd, lalu belok ke Arab St. Dari situ sudah terlihat wujud bangunan Masjid Sultan, tepatnya di Muscat St. Bisa juga ketika keluar dari Bugis MRT Station lalu menyusuri North Bridge Rd, bedanya, kalau yang melalui Victoria St, posisi Raffles Hospital ada di sebelah kanan, sedangkan jika melalui North Bridge Rd, posisi Raffles Hospital berada di sisi kiri kita. Agar tidak bingung, temukan dulu bangunan Raffles Hospital setelah keluar dari Bugis MRT Station, niscaya arah ke Masjid Sultan lebih mudah terlihat.

Apabila waktu sholat belum masuk, Anda dapat melepaskan penat atau sekalian mengisi perut di Rumah Makan Minang yang lokasinya di ujung Muscat St, tak jauh dari Masjid Sultan berada. Di seberangnya terdapat bangunan Malay Heritage Centre atau Istana Kampong Glam. Jadwal acara atau event tahunan di Malay Heritage Centre dapat dilihat pada sebuah papan besar yang terpampang di sana (diantaranya pertunjukan wayang kulit, gamelan asmaradana, dan kuda kepang, kesenian tradisional khas Indonesia).







No comments: