Thursday, September 14, 2017

Menanamkan Kemandirian dan Rasa Syukur pada Anak

Di dunia yang semakin modern ini menjadi tantangan dan kesulitan tersendiri bagi sejumlah orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Jaman sudah berubah dan sangat berbeda dengan jaman orang-orang tua dulu. Tuntutan ekonomi tidak sebesar yang dirasakan orang di abad ini. 

Orang tua adalah ibarat penanam benih padi di ladang. Jika ia bisa merawat dan membesarkan butiran-butiran padi dengan benar, mengisi air dengan porsi yang cukup, dan membersihkan hama-hama yang ada, niscaya ia akan memperoleh hasil panen yang memuaskan. Jika merawatnya tidak benar maka hasil padinya pun tak akan memuaskan. Begitu pula dengan kehidupan manusia. Jika anak terlalu dininabobokan dengan kemewahan dan fasilitas yang serba ada, niscaya kehidupannya kelak akan mengalami masalah besar, terutama dalam menumbuhkan pola kemandirian dan rasa syukur.          

Hal ini tentu saja merisaukan orang tua jaman sekarang. Salah satunya yang dapat membuat orang tua bimbang adalah soal pemberian berbagai fasilitas yang memanjakan anak, baik berupa harta benda maupun kasih sayang yang berlebihan.

Memanjakan anak, terutama secara berlebihan, bisa menjadi mata pisau yang “mematikan” karena setidaknya akan menyinggung 2 (dua) hal : (1) pola hidup mandiri, dan (2) rasa syukur akan nikmatnya hidup. Kemandirian adalah sesuatu yang menyangkut kemampuan anak untuk mampu bertahan hidup tanpa bantuan orang lain, terutama dalam hal ini orang tua. Banyak diantara anak jaman sekarang menggunakan "aji mumpung" ; mumpung orang tua masih sehat, mumpung orang tua masih mampu membiayai hidup, mumpung orang tua masih mampu memfasilitasi dan memenuhi semua kebutuhan, dan mumpung-mumpung lainnya. Apalagi jika orang tua masih berpenghasilan besar, berkedudukan tinggi, dan dihormati banyak orang. Tanpa disadari, aneka macam fasilitas hidup tadi justru menyimpan “bom waktu” yang siap "meledak" dan akan menimbulkan masalah besar di kemudian hari. Bayangkan ketika orang tua sudah uzur, pensiun dari pekerjaan, dan tak berpenghasilan lagi. Apakah anak akan terus-menerus dapat mengandalkan harta kekayaan orang tuanya.

Kesalahan pola pendidikan ini dapat bermula dari sejak anak masih kecil. Ia tidak dilatih untuk siap menerima kenyataan yang berbeda dari kondisi awal. Dan ini sungguh akan menghancurkan hidup anak di masa depan.

Banyak dijumpai di sekitar kita, sejumlah kisah nyata dimana orang tua yang dalam masa-masa akhir hayat seharusnya dapat menikmati sisa hidupnya dengan tenang, namun apa lacur, karena kesalahan mendidik sejak awal dan si anak juga tak kunjung menyadari bahwa suatu saat orang tuanya tak akan bisa menyokongnya terus-menerus, ujung pengorbanannya mereka hanya menjadi sia-sia belaka. Sebagai contoh, ada anak yang telah memakan banyak harta kedua orang tuanya namun gagal menyelesaikan kuliah. Untuk mendapat pekerjaan pun makin sulit karena bekal ijasah yang tak mencukupi. Dan lebih celakanya, pernikahannya pun banyak diliputi persoalan karena gaya hidup yang tak bisa berubah menyesuaikan kondisi keuangan yang ada.

Masalah lain dari rumitnya mendidik anak di jaman modern adalah tidak adanya rasa syukur. Bagaimana bisa bersyukur jika anak tidak pernah melihat orang yang lebih sengsara dari hidupnya. Rumah megah dengan perlengkapan super lengkap, mobil mewah yang siap menemani ke mana-mana pergi, menyebabkan anak menjadi terlalu manja dan tidak mampu bertahan dalam kesederhanaan. Hampir tidak ada hajat hidupnya yang tidak terpenuhi. Padahal di sekitarnya masih ada orang-orang yang kurang beruntung. Tidur beralas tikar dan berpenerangan seadanya. Rumah bocor di mana-mana ketika musim hujan tiba. Bahkan untuk makan pun sulit dan tidak setiap hari dapat terpenuhi. Nah, jika sebuah keluarga tidak pernah diajarkan berperilaku sederhana atau menyaksikan penderitaan sesama sebagaimana yang riil dialami kaum papa maka sulit sekali untuk bisa menanamkan rasa syukur. Yang ada justru mengeluh dan mengeluh jika ada sedikit kekurangan.

  

No comments: